Desy Rosmanurlisa

Bisa Setelah Terpaksa

Dahulu memasak merupakan hal yang sangat menakutkan, setidaknya bagi saya pribadi. Ya… Selama ini,sejak kecil sampai dengan SMU saya memang tidak pernah memasak. Apalagi saya anak tunggal, jangankan untuk memasak, mencuci pakaian dan masuk dapur pun jarang. Ditambah lagi setelah SMU, saya kuliah diluar kota. Sekolah ikatan dinas dengan fasilitas asrama dan makanan siap saji, tinggal pergi ke ruang makan,selesai..he..

Pengalaman pertama saya memasak adalah ketika selesai kuliah dan saya menerima Surat Keputusan bahwa saya ditempatkan dan harus siap bekerja di Provinsi Bengkulu,yang otomatis berarti saya harus jauh dari kedua orang tua saya. Jadi mulai saat itu, saya bertekad, saya harus mandiri, saya harus mampu minimal memenuhi kebutuhan saya sendiri. Saya sudah tidak bisa bermanja-manja dengan kedua ortu lagi, dan segala sesuatu harus difikirkan dengan lebih bijak😦


Beruntungnya saya di Bengkulu sempat serumah dengan senior yang pintar memasak. Kami tinggal bertiga,dan terkadang masak bersama saling bantu membantu.Tetapi demi alasan kepraktisan, saya lebih sering membeli lauk diluar atau membuat mie instan untuk mengganjal perut.Pengalaman  belajar masak pertama adalah memasak opor ayam. Waktu itu saya memilih mengambil bagian memotong bahan. Urusan bumbu ada yang lebih ahli. Ternyata memotong pun ada teknik khusus, untuk daging harus tahu alur serat daging untuk memudahkan memotong dan agar daging tidak hancur saat dimasak. Sejak saat itu saya mulai belajar membantu dirumah memotong bahan masakan, itu pun lebih memilih sayuran. Rasanya enggan berurusan dengan daging atau ikan, karena amis dan susah hilang bau nya.

Tantangan terbesar justru setelah saya resmi menyandang gelar nyonya. Mulai saat itu jadi tanda tanya, mau makan apa setelah menikah? Selain itu, kalau mau dihitung rinci, masak sendiri tentu lebih murah dari pada selalu membeli masakan diluar. Selain alasan ekonomis, masak sendiri pun lebih sehat, lebih bersih, lebih terjamin da bebas pengawet dan penyedap makanan. Jadi kondisi dan pemikiran itulah yang menjadi penyemangat untuk belajar memasak…
Alhamdulillah, sekarang sudah banyak perubahan. Sudah mulai enjoy dengan aktifitas memasak. Bisa setelah terpaksa, dan manfaatnya ternyata sangat besar🙂

Comments on: "Bisa Setelah Terpaksa" (2)

  1. ternyata gtu y mbak, hehehe

  2. Masak itu udah kewajiban cewe, hehe

Terima Kasih atas kunjungannya, jika berkenan dan suka silahkan meninggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: